Minggu, 03 Maret 2013

LP HALUSINASI


A.   Masalah Utama:
Perubahan sensori perceptual : halusinasi
 
B.   Proses Terjadinya Masalah
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat ke­sadaran individu itu penuh/baik. Individu yang mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi itu berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang diicintai, tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri. 
Halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain.
Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri (self esteem) dan keutuhan keluarga dapat merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Ancaman terhadap harga diri dan keutuhan keluarga meningkatkan kecemasan. Gejala dengan meningkatnya ke­cemasan, kemampuan untuk memisahkan dan mengatur persepsi, mengenal perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan perasaan sendiri menurun, sehingga segala sesuatu diartikan berbeda dan proses rasionalisasi tidak efektif tagi. Hal ini mengakibatkan lebih sukar lagi membedakan mana rangsangan yang berasal dari pikirannya sendiri dan mana yang dari lingkungannya.
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara sendiri, secara tiba‑tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang me­nikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan).

C.   1.  Pohon Masalah

Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan



Perubahan persepsi sensori : halusinasi
 
 
                          

Isolasi social : menarik diri

2.   Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji
Perubahan sensori perseptual: halusinasi
a.    Data Subyektif :
§  Mendengar suara bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
§  Melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
§  Mencium bau tanpa stimulus
§  Merasa makan sesuatu
§  Merasa ada sesuatu pada kulitnya
§  Takut pada suara/bunyi/gambaran yang didengar
§  Ingin memukul/melempar barang – barang

b.    Data Obyektif :
§  Berbicara dan tertawa sendirl
§  Bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
§  Berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
§  Disorientasi

D.   Diagnosa Keperawatan
a.   Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi
b.   Perubahan sensori perceptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri


E.   Rencana Tindakan
a.   Tujuan Umum
Klien tidak mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

b.   Tujuan Khusus
1.  Membina hubungan saling percaya
Tindakan :          
1.1   Salam terapeutik ‑ perkenalkan diri ‑ jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang ‑ buat kontrak yang jelas (waktu, tempat, topik)
1.2   Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
1.3   Empati
1.4   Ajak membicarakan hal ‑ hal nyata yang ada di lingkungan

2.  Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
2.1   Kontak sering dan singkat
2.2   Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi  (verbal dan non verbal)
2.3   Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar ‑ apa yang dikatakan oleh suara itu Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, tetapi perawat tidak mendengamya. Katakan bahwa perawat akan membantu.
2.4   Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu, frekuensi teriadinya halusinasi serta apa yang dirasakan jika teriadi halusinasi
2.5   Dorong untuk mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul

3.  Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan :
3.1   Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika teriadi halusinasi
3.2   Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya
3.3   Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut  “saya tidak mau dengar!”
3.4   Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan
3.5   Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil

4.  Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
4.1   Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan
4.2   Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

5.  Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
5.1   Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat
5.2   Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama, pasien, obat, dosis, cara dan waktu)
5.3   Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
5.4   Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang benar



                                                               Semarang,  September  2005
                 Pembimbing                                                         Praktikan,

         

 

Bambang Edi Warsito, SKp                              Agus Cahyono, S,Kep

      NIP: 140 239 056                                         NIM G6B 205 003



DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003

Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998

Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999

Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998

Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar